Blog Metlivi

Cara Menulis Mimpi tentang Diri Anda di Masa Depan sebagai Adegan Imajinasi, Bukan Prediksi

Mimpi tentang versi masa depan diri Anda dapat menjadi sebuah karya penulisan kreatif yang hidup tanpa harus diperlakukan sebagai ramalan. Gunakan mimpi tersebut sebagai bahan mentah: pertahankan citra atau momen yang mencolok, ciptakan adegan sehari-hari yang spesifik di sekitarnya, dan biarkan sosok imajiner tersebut mengekspresikan dirinya melalui apa yang dilakukannya. Hasilnya adalah sebuah kemungkinan di atas kertas—bukan pernyataan tentang apa yang pasti akan terjadi.

30 September 20266 min readEstetika sehari-hari dan ekspresi diriOleh Metlivi Editorial Team
Bagian 1

Mulailah dengan apa yang benar-benar Anda ingat

Sebelum Anda menambahkan apa pun, catatlah penggalan-penggalan yang membekas di ingatan: sebuah tempat, sebuah benda, sebaris dialog, sebuah gestur, atau perasaan saat melihat diri Anda di masa mendatang. Mimpi jarang sekali hadir sebagai alur cerita yang rapi, dan catatan Anda pun tidak harus menjelma menjadi seperti itu. Daftar singkat seperti “cangkir biru, jendela terbuka, seseorang sedang menunggu” memberi Anda bahan untuk diolah tanpa menuntut Anda menjelaskan arti sebenarnya dari penggalan tersebut.

Tandai mana yang berasal dari mimpi dan mana yang merupakan rekaan Anda. Anda bisa membuat dua kolom—“diingat” dan “dibuat-buat”—atau cukup beri tanda kurung pada bagian tambahan. Pembeda kecil ini sangat berguna ketika adegan tersebut mulai terasa meyakinkan: ini mengingatkan Anda bahwa detail-detail tersebut adalah pilihan yang dibuat untuk sebuah tulisan. Sebuah petunjuk menulis dari Poetry Foundation juga memulai dengan membayangkan ruang menulis masa depan dan meminta penulis membangunnya melalui latihan singkat yang mendetail; itu adalah stimulus kreatif, bukan klaim bahwa ruang tersebut pasti akan ada.

Bagian 2

Pilihlah satu momen biasa daripada seluruh kehidupan masa depan

Adegan diri di masa depan menjadi lebih mudah ditulis jika Anda mempersempit skalanya. Daripada merangkum satu dekade—tempat Anda tinggal, apa yang Anda kerjakan, siapa saja orang di sekitar Anda—pilihlah secuil bagian dari satu hari: membuat sarapan, tiba di suatu tempat, menjahit kancing yang kendur, atau memutuskan apakah akan bertahan untuk satu obrolan lagi. Bingkai yang sempit memberi pembaca sesuatu yang konkret untuk dilihat berkembang dan menjaga tulisan agar tidak berubah menjadi sekadar daftar pencapaian.

Tanyakan: Apa yang sedang dilakukan oleh versi masa depan saya saat ini, dan pilihan kecil apa yang menggerakkan momen tersebut? Mungkin mereka menyadari seorang teman datang lebih awal lalu menyalakan ketel air; mungkin mereka menyisihkan tugas yang baru setengah selesai untuk berjalan-jalan sebelum hari gelap. Itu adalah kemungkinan-kemungkinan fiksi. Hal-hal tersebut tidak harus menjadi tujuan atau prediksi. Dalam keahlian menulis fiksi, adegan biasanya dibangun di atas latar, aksi, dialog, dan detail; deskripsi University of Chicago untuk lokakarya fiksi pemula mengidentifikasi hal-hal ini sebagai elemen kunci dalam penulisan adegan.

Bagian 3

Beri diri imajiner Anda sebuah tempat dan aktivitas

Pilihlah latar yang memengaruhi tindakan, bukan sekadar yang terdengar mengesankan. Dapur dengan laci yang macet, halte bus di tengah gerimis, atau meja kerja yang penuh tumpukan kertas dapat membentuk apa yang diperhatikan dan dilakukan oleh seorang tokoh. Masukkan beberapa detail konkret: tepi cangkir yang hangat, lengan baju yang lembap, derit kursi yang digeser. Program penulisan kreatif Stanford menjelaskan detail sensorik sebagai cara untuk membuat latar memengaruhi tindakan tokoh serta momentum narasi.

Lalu beri diri masa depan Anda sebuah tugas yang terlihat jelas. Mereka mungkin melipat peta, membalas pesan, meletakkan tanaman di dekat jendela, atau meninggalkan sebuah acara untuk mengejar bus terakhir. Saat Anda merasa tergoda untuk melabeli tokoh tersebut (“mereka merasa puas” atau “mereka akhirnya menjadi percaya diri”), carilah pilihan tindakan fisik yang memungkinkan pembaca menyimpulkan suasana hatinya. Panduan penulisan kreatif dari University of Nevada, Reno mencatat bahwa latar bisa dibuat minim atau dapat dihubungkan dengan tokoh dan alur; gunakan hanya detail yang membantu adegan khusus Anda.

Bagian 4

Tulis dalam bentuk waktu sekarang (present tense) dari adegan tersebut

Anda dapat menggunakan sudut pandang orang pertama—“Aku meletakkan piring di atas meja dapur”—atau orang ketiga—“Mereka meletakkan piring di atas meja dapur.” Pilihlah mana yang terasa lebih alami, lalu jaga sudut pandang tersebut tetap stabil agar pembaca dapat mengikuti momen tersebut. Bentuk waktu sekarang (present tense) dapat membuat adegan imajiner terasa langsung dan nyata, tetapi tidak menjadikannya lebih pasti. Ini adalah pilihan cara bercerita, bukan klaim kepastian waktu.

Biarkan adegan bergulir dalam beberapa ketukan: tokoh menemukan sesuatu, membuat pilihan, dan melihat apa yang terjadi selanjutnya. Sebagai contoh: “Bus sudah berada di tepi trotoar. Aku mendengar namaku dipanggil dari pintu masuk kafe. Aku mengangkat tangan, memeriksa jam, dan membiarkan pintu bus menutup sebelum aku berbalik.” Contoh ini dibuat untuk menunjukkan aksi kecil dan konsekuensinya; ini bukanlah penafsiran mimpi atau keputusan hidup yang disarankan. Sebuah adegan bisa tetap hening. Adegan hanya membutuhkan cukup pergerakan untuk membuat momen tersebut terasa khas.

Bagian 5

Pertahankan citra mimpi, tetapi longgarkan maknanya

Jika mimpi Anda menyertakan citra yang terasa simbolis—sebuah kunci, tangga, ruangan yang terang benderang—Anda dapat menyimpannya sebagai objek harfiah dalam adegan. Biarkan kunci itu membuka lemari, biarkan tangga itu menuju ke lantai bordes yang bising, atau biarkan ruangan terang itu memiliki jendela yang perlu dibersihkan. Anda tidak perlu memecahkan kode objek tersebut menjadi sebuah pesan. Perannya bisa bersifat sensorik, praktis, atau sekadar unik.

Anda juga dapat membiarkan logika aneh dari mimpi tetap ada. Mungkin diri masa depan Anda sedang membawa lentera kertas ke dalam toko kelontong, atau jalan yang sudah biasa dilewati berujung di bibir pantai. Perlakukan itu sebagai premis imajinatif dan tanyakan apa yang dilakukan sang tokoh sebagai responsnya. Panduan University of Nevada menggambarkan simbol sebagai objek atau elemen yang dapat mewakili hal lain, sekaligus membedakan berbagai jenis simbol; dalam adegan Anda, makna dapat dibiarkan terbuka daripada ditentukan sebelumnya.

Bagian 6

Gunakan alur draf yang sederhana

Cobalah proses singkat ini dalam satu sesi duduk. Proses ini bergerak dari bahan yang diingat menuju adegan utuh sambil tetap memperlihatkan batas yang jelas antara mimpi dan karangan.

Tuliskan tiga penggalan mimpi tanpa menafsirkannya.

Lingkari satu penggalan yang dirasa cocok dimasukkan ke dalam momen sehari-hari.

Tentukan waktu dan tempat yang spesifik untuk momen tersebut. Jika mimpi tidak memberi latar, ciptakanlah sendiri.

Beri diri imajiner Anda satu tugas konkret dan satu pilihan kecil.

Tulis draf selama sepuluh menit, tambahkan detail sensorik dan dialog secukupnya agar adegan terasa jelas dan hidup.

Saat merevisi, garis bawahi pernyataan yang terdengar seperti klaim pasti tentang masa depan Anda. Gantilah dengan observasi setingkat adegan atau simpan dengan jelas di dalam pikiran sang tokoh.

Sebagai contoh, kalimat “Aku akan memiliki studio sendiri pada usia empat puluh tahun” menyatakan sebuah hasil seolah-olah sudah pasti. Sementara “Di studio yang kubayangkan, jendelanya macet, dan aku mengganjalnya agar terbuka dengan sebuah buku catatan” menambatkan tulisan pada tempat yang secara tegas diimajinasikan dan sebuah tindakan. Kalimat kedua menawarkan sesuatu yang dapat dibayangkan oleh pembaca tanpa menuntut mereka untuk percaya bahwa tempat itu ditakdirkan untuk nyata.

Bagian 7

Periksa apakah tulisan terbaca sebagai adegan kreatif

Baca draf tersebut sekali untuk melihat pembingkaiannya dan sekali lagi untuk melihat keahlian penulisannya (craft). Untuk pembingkaian, perhatikan bahasa yang mengubah mimpi menjadi sebuah jaminan kepastian: “ini membuktikan,” “aku ditakdirkan,” atau “aku tahu ini akan terjadi.” Hapus kalimat tersebut atau ubah menjadi bentuk ketidakyakinan narator atau rekaan semata. Untuk keahlian penulisan, periksa apakah adegan tersebut memiliki tempat yang jelas, seseorang yang sedang melakukan sesuatu, dan setidaknya satu detail yang penting bagi momen itu. Sebuah adegan bisa saja singkat namun tetap terasa utuh jika aksinya memiliki awal dan akhir yang jelas walau sederhana.

Jika draf tersebut telah berubah menjadi biografi masa depan Anda, kembalilah ke satu momen dan dramatisasikan. Jika telah menjadi penjelasan tentang apa “arti” mimpi tersebut, kembalilah ke apa yang sebenarnya bisa Anda tuangkan ke halaman tulisan: suara, objek, gerakan, atau latar. Anda dapat mengakhirinya dengan sebaris kalimat yang membiarkan adegan tetap terbuka—pintu yang menutup, cangkir yang mulai dingin, pertanyaan yang tak terjawab—alih-alih sebuah prediksi tentang apa yang akan terjadi selanjutnya.

Menulis tentang diri masa depan dari sebuah mimpi akan bekerja paling baik sebagai tindakan membangun adegan imajinatif: pertahankan beberapa penggalan yang diingat, ciptakan momen yang terbatas, dan tunjukkan sang tokoh melalui pilihan-pilihan biasa. Mimpi menyediakan bahan baku; penulislah yang menentukan apa yang terjadi di atas kertas.

Bacaan terkait

Lanjutkan topik ini